Vaksin Malaria

Vaksin Malaria

Vaksin Malaria
Vaksin Malaria

Penyakit Rawa-Rawa Yang Mendunia

Empat Spesies Malaria

Parasit malaria baru dapat dikenali oleh Charles Louis Alphonse Laveran tahun 1880. Dokter bedah dari Perancis itu menemukan bentuk pisang, yang sekarang dikenal sebagai bentuk gametosit dari P.falciparum, dalam darah penderita malaria di bawah lensa mikroskop. Parasit malaria digolongkan dalam genus Plasmodium dan mempunyai 4 spesies yaitu P. falciparum, P. vivax, P. malaria, dan P. ovale.

Dari keempat spesies itu, P. falciparium paling ditakuti karena menjadi penyebab sebagian besar kematian akibat malaria. Hal itu dikarenakan eritrosit yang terinfeksi oleh P. falciparum akan berikatan dengan endotel pembuluh darah. Ikatan itu membentuk gumpalan (sludge) yang dapat menghambat aliran darah ke beberapa organ termasuk organ vital seperti otak, jantung, hati dan ginjal. Selanjutnya, organ-organ tersebut akan mengalami anoksia dan edema.

Di sisi lain, P. vivax dan P. malariae adalah spesies yang dapat menyebabkan relaps dan rekrudesensi. Rekrudesensi adalah berulangnya gejala klinik dan parasitemia dalam masa 8 minggu sesudah berakhirnya serangan primer. Rekrudesensi dapat terjadi sesudah periode laten dari serangan primer. Relaps dinyatakan sebagai berulangnya gejala klinik setelah periode yang lama dari masa laten, sampai 5 tahun. Hal itu disebabkan kedua spesies itu mempunyai bentuk hipnozoit yang dapat bertahan dalam hati cukup lama, dalam hitungan bulan bahkan tahun.

Patogenesis

Patogenesis malaria berat dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu pejamu (host), agen (agent), dan lingkungan (environment).
Dari sisi agen, parasit malaria, protein Pf EMP-1 (Plasmodium falciparum erythrocyte membrane protein-1) diduga berperan penting dalam patogenesis malaria. Protein tersebut diekspresikan pada eritrosit yang terinfeksi parasit. Protein ini berperan dalam proses cytoadherens yaitu sekuestrasi di mikrosirkulasi, rosseting, dan aggregasi eritrosit terinfeksi dengan trombosit. Proses-proses tersebut mengakibatkan obstruksi mikrosirkulasi yang kemudian mengakibatkan gangguan fungsi organ.
Dari sisi pejamu, yang berperan dalam patogenesis adalah sitokin pro-inflamasi (TNF-α dan IFN-α).  Sitokin itu secara tidak langsung menghambat perkembangan parasit. Akan tetapi, tingginya sitokin dalam suatu organ akan mengganggu fungsi organ tersebut, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan cara meningkatkan ekspresi dari molekul adhesi sehingga memacu proses cytoadherens sepertiyang telah dijelaskan sebelumnya.

Trias Malaria

Masa inkubasi malaria berkisar antara 9- 30 hari. Gejala kliniknya dikenal sebagai trias malaria yang terdiri dari demam, anemia dan splenomegali. Demam khas pada malaria adalah menggigil selama 15-60 menit karena pecahnya skizon eritrosit, lalu demam selama 2-6 jam kemudian berkeringat selama 2-4 jam. Keringat yang dihasilkan dapat sangat banyak hingga membasahi tempat tidur. Setelah berkeringat biasanya penderita justru akan merasa lebih enakan tapi lemas. Gejala ini terus berulang dengan periode tertentu sesuai dengan jenis plasmodiumnya. Di daerah endemis, gejala khas ini seringkali tidak ditemukan karena sebagian besar sudah memiliki imunitas di dalam tubuhnya. Gejala klinik mungkin didahului dengan sakit kepala, lemah, nyeri otot dan nyeri tulang.
Dalam melakukan anamnesis terhadap seorang penderita yang diduga malaria, selain menanyakan pola demam tersebut, jangan lupa pula menanyakan riwayat bepergian ke daerah endemis, pernah sakit malaria, dan riwayat transfusi darah.

Darah Tepi & Deteksi Antigen

Ada 2 cara diagnostik yang diperlukan untuk mengatakan seseorang itu positif malaria atau tidak yaitu pemeriksaan darah tepi (tipis/tebal) dan deteksi antigen. Darah tepi menjadi pemeriksaan terpenting yang tidak boleh dilupakan meskipun pemeriksaannya sangat sederhana. Interpretasi yang didapat dari darah tepi adalah jenis dan kepadatan parasit.
Deteksi antigen digunakan apabila tidak tersedia mikroskop untuk memeriksa preparat darah tepi dan pada keadaan emergensi yang perlu diagnosis segera. Teknik yang digunakan untuk deteksi antigen adalah immunokromatografi dengan kertas dip stick. Beberapa kit antigen yang sudah tersedia di pasaran saat ini antara lain antigen histidine rich protein-2 (HRP-2), yang dihasilkan dari tropozoit dan gametosit muda P. falciparum; antigen parasit lactate dehidrogenase (p-LDH) yang dihasilkan dari bentuk aseksual atau seksual keempat Plasmodium; dan antigen pan-malarial keempat Plasmodium.

Khasiat dari Pohon Qinghousu

Resisten obat anti malaria yang telah beredar, menuntut obat baru untuk mengatasi resistensi. Alhasil, ditemukanlah artemisinin! Perihal obat ini pun seperti dipaparkan, Prof DR dr Inge Sutanto SpPar dalam Temu Ilmiah dan Konas I Parasitologi Klinik di Jakarta 2004, berasal dari ekstrak daun dan bunga pohon Qinghousu (Artemisia annua). Pohon itu tumbuh di Cina dan Vietnam utara. Tak heran bila ada pepatah yang mengatakan belajarlah hingga ke negeri Cina, sebab pada kenyataannya pohon ini sudah digunakan oleh bangsa Cina sebagai obat malaria sejak tahun 1972! Bahkan sudah 2000 tahun digunakan sebagai obat penurun demam (antipiretik). Artemisinin terdiri atas bentuk artemisinin, Natrium-artesunat, aretmeter, arteeter, dan dihidroartemisinin. Teks Laporan Hasil Observasi

Keunggulan dari artemisinin, jelas Prof. Inge, antara lain cepat menghilangkan gejala klinis, cepat mengeliminasi parasit dalam darah, belum ada laporan resistensi, dan mampu menurunkan transmisi malaria di daerah endemis karena artemsinin bersifat gametosidal.