Sintaksis Operasional Model Inkuiri Jurisprudensi

Sintaksis Operasional Model Inkuiri Jurisprudensi

Sintaksis Operasional Model Inkuiri Jurisprudensi

Sintaksis Operasional Model Inkuiri Jurisprudensi
Sintaksis Operasional Model Inkuiri Jurisprudensi

Sumantri dan Permana menyatakan penerapan model yurisprodensi

Di dalam proses pembelajaran meliputi enam fase sebagai berikut.

  1. Fase pertama, guru memperkenalkan materi kepada peserta didik dengan membacakan cerita atau sejarah, menyaksikan film tentang kontroversi nilai, atau mendiskusikan sesuatu yang terlibat (misalnya kebebasan berbicara, mempertahankan hak, otonomi, keadilan), serta mengidentifikasi konflik-konflik nilai tersebut.
  2. Fase kedua, para peserta didik diminta memahami dan menghayati melalui pengertian mereka tentang masalah atau isu yang didengar atau disaksikan.
  3. Fase ketiga, siswa diminta untuk menentukan sikap dirinya terhadap isu yang dikembangkan dan landasan pemikirannya.
  4. Fase keempat, siswa diminta untuk memperjelas konflik-konflik nilai dengan analogi-analoginya.
  5. Fase kelima, memperjelas alasan posisi nilai. Kadang-kadang guru perlu meminta siswa menyatakan kembali posisinya.
  6. Fase keenam, menguji posisi siswa terhadap nilai dan mengkajinya secara cermat (via Aunurrahman, 2010: 157).

.

Strategi pembelajaran yang dipelopori oleh Donal Oliver dan James P. Shaver ini didasarkan atas pemahaman masyarakat dimana setiap orang berbeda pandangan dari prioritas satu sama lain, dan nilai-nilai sosialnya saling berkronfrontasi satu sama lain. Memecahkan masalah kompleks dan kontroversial di dalam konteks aturan sosial yang produktif membutuhkan warga negara yang mampu berbicara satu sama lain dan bernegosiasi tentang keberbedaan tersebut.

Made Wena (2009:132) mengemukakan langkah-langkah pembelajaran Inkuiri Jurisprudensial meliputi:

  1. orientasi terhadap kasus;
  2. mengidentifikasi isu;
  3. pengambilan posisi (sikap);
  4. menggali argumentasi untuk mendukung posisi (sikap) yang telah diambil;
  5. memperjelas ulang dan memperkuat posisi (sikap); dan
  6. menguji asumsi tentang fakta, definisi, dan konsekuensi.

.

Untuk lebih memahami langkah-langkah sebagaimana telah dikekumakan di atas dapat dijelaskan sebagai berikut.

Orientasi Kasus/Permasalahan

Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim pembelajaran yang responsif. Pada langkah ini guru mengkondisikan siswa agar siap melaksanakan proses pembelajaran. Pada langkah orientasi dalam strategi pembelajaran inkuiri, guru merangsang dan mengajak siswa untuk berpikir memecahkan masalah.

Pada tahap ini guru mengajukan kasus dengan membacakan kasus yang terjadi, memperlihatkan film/video kasus, atau mendiskusikan suatu kasus yang sedang hangat di masyarakat atau kasus di sekolah. Langkah berikutnya adalah meninjau fakta-fakta dengan jalan melakukan analisis, siapa yang terlibat, mengapa bisa terjadi, dan sebagainya.

Guru memperkenalkan kepada siswa materi-materi kasus dengan cara membaca berita, menonton film yang menggambarkan konflik nilai, atau mendiskusikan kejadian-kejadian hangat dalam kehidupan sekitar, kehidupan sekolah atau suatu komunitas masyarakat. Langkah kedua yang termasuk ke dalam tahap orientasi adalah mengkaji ulang fakta-fakta dengan menggambarkan peristiwa dalam kasus, menganalisiss siapa yang melakukan apa, dan mengapa terjadi seperti demikian.

Identifikasi Isu (merumuskan masalah)

Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada suatu persoalan yang mengandung teka-teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang menantang siswa untuk berpikir memecahkan teka-teki itu. Dikatakan teka-teki dalam rumusan masalah yang ingin dikaji disebabkan masalah itu tentu ada jawabannya, dan siswa didorong untuk mencari jawaban yang tepat.

Pada tahap ini siswa dibimbing untuk mensintesis fakta-fakta yang ada kedalam sebuah isu yang sedang dibahas, kaitannya dengan kebijakan publik, dan munculnya kontroversi di masyarakat, dan sebagainya, karekteristik nilai-nilai yang terkait (seperti kemerdekaan berbicara, perlindungan terhadap kesejahteraan umum, otonomi daerah, atau kesamaan memperoleh kesempatan), melakukan identifikasi konflik terhadap nilai-nilai yang ada. Dalam tahap ini siswa belum diminta untuk menentukan pendapatnya terhadap kasus yang dibahas.

Siswa mensintesis fakta, mengakitkannya dengan isu-isu umum dan mengidentifikasi nilai-nilai yang terlibat dalam kasus tersebut (misalnya, isu tersebut berkaitan dengan kebebasan mengemukakan pendapat, otonomi daerah, persamaan hak dan lain-lain). siswa belum diminta mengekspresikan pendapat terhadap kasus tersebut.

 

Penetapan Posisi (merumuskan hipotesis)

Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang sedang dikaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu dikaji kebenarannya. Pada tahap ini siswa mengartikulasikan/ mengambil posisi terhadap kasus yang ada. Siswa menyatakan posisinya terkait dengan nilai sosial atau konsekuensi dari keputusannya. Siswa diminta untuk mengambil posisi (sikap/pendapat) terhadap isu tersebut dan menyatakan sikapnya. Misalnya dalam kasus bayaran uang sekolah, siswa menyatakan sikapnya bahwa seharusnya pemerintah tidak menetukan besarnya biaya sekolah yang harus diberlakukan untuk tiap sekolah karena hal itu melanggar hak otonomi sekolah.  Sumber : https://bandarlampungkota.go.id/blog/jaring-jaring-kubus/