Sikapi Seruan Boikot Terhadap Huawei, Eropa Terbelah

Sikapi Seruan Boikot Terhadap Huawei, Eropa Terbelah

Sikapi Seruan Boikot Terhadap Huawei, Eropa Terbelah

Sikapi Seruan Boikot Terhadap Huawei, Eropa Terbelah
Sikapi Seruan Boikot Terhadap Huawei, Eropa Terbelah

Permintaan AS untuk memboikot peralatan telekomunikasi 5G Huawei 5G, mendapat beragam penerimaan dari negara-negara Eropa. Beberapa negara menyatakan tidak terganggu oleh kecurigaan mata-mata terhadap raksasa Cina itu, tetapi yang lain memilih mendukung larangan tersebut.

Ditengah polarisasi kebijakan, perkembangan terbaru tampaknya

semakin menyudutkan Huawei. Pemerintah Polandia mengatakan pada hari Jumat lalu (11/1/2019) bahwa pihaknya telah menangkap seorang eksekutif telekomunikasi China yang dicurigai menjadi mata-mata China, dengan media lokal mengidentifikasikannya sebagai direktur Huawei.

Penangkapan tersebut direspon cepat oleh Huawei. Vendor yang berbasis di Shenzen itu, mengatakan telah memecat karyawan yang ditangkap di Polandia. Kepada AFP, Huawei menyebutkan bahwa “tindakan tersebut tidak ada hubungannya dengan perusahaan”.

Sebelumnya dalam kasus terpisah, Huawei telah melihat penangkapan putri pendiri perusahaan Meng Wanzhou di Kanada di akhr tahun lalu, sebagai upaya AS untuk memasukkan perusahaan itu ke dalam daftar internasional karena masalah keamanan.

Beberapa negara Asia dan Pasifik, sejauh ini telah mengikuti seruan

Washington untuk melarang keterlibatan jaringan 5G Huawei. Namun di Eropa, perlintaan tersebut tak serta merta diikuti, karena teknologi 5G Huawei sangat menarik. Mereka jauh di depan Ericsson Swedia, Nokia Finlandia dan Samsung Korea Selatan, kata para analis.

Teknologi 5G merupakan lompatan kuantum dalam kecepatan komunikasi nirkabel, dan akan menjadi kunci untuk mengembangkan internet berbagai hal, termasuk mobil self-driving. Itulah sebabnya Eropa ingin menyebarkannya secepat mungkin.

“Operator melihat alternatif tetapi telah menyadari bahwa Huawei

saat ini lebih inovatif dan mungkin lebih baik untuk 5G,” kata Dexter Thillien, seorang analis di Fitch Solutions.

Sayangnya, kombinasi antara kompetensi dan bakat yang ditawarkan Huawei, justru menghadapi peningkatan pengawasan terhadap dugaan hubungannya dengan layanan intelijen China. Hal itu mendorong tidak hanya AS tetapi juga Australia, Selandia Baru dan Jepang untuk memblokirnya dari membangun jaringan internet 5G mereka.

 

Sumber :

https://www.artstation.com/ahmadali88/blog/WA3z/titanium-backup-pro-apk-mod