Sejarah Penilaian Keindahan

Sejarah Penilaian Keindahan

Sejarah Penilaian Keindahan

Sejarah Penilaian Keindahan

Sebuah keindahan seharusnya sudah dinilai pada saat karya seni pertama kali dibuat, tetapi rumus keindahan pertama kali didokumentasi oleh filsuf Plato yang menentukan keindahan dari proporsi, kesatuan, serta keharmonisan. Sementara Aristoteles menilai keindahan datang dari aturan-aturan, keberadaan, serta kesimetrisan.

Estetika Dalam Arsitektur

Dalam arsitektur, estetika adalah sebuah bahasa visual, yang tidak sama dengan beberapa bahasa estetika yang tidak visual, seperti bahasa itu sendiri. Estetika dalam arsitektur memiliki banyak sangkut paut dengan segala yang visual seperti permukaan, volume, massa, elemen garis, dan sebagainya, termasuk berbagai order harmoni, seperti komposisi.


Teori Estetika Teori Estetika SubyektifMenurut Herbert Read teori subyektif menyatakan bahwa sesungguhnya yang menyatakan ciri-ciri yang menimbulkan keindahan adalah tidak ada. Yang ada hanyalah tanggapan persaaan dalam diri seseorang dalam mengamati sesuatu benda.Keindahan memang subyektif, dalam diri setiap orang, pendapat tentang nilai estetika sebuah bangunan dipengaruhi oleh berbagai hal, antara lain:Subyektifitas diri sendiri.


Sensasi hanya dimungkinkan bila fungsi biologis tubuh kita yang berkaitan dengan fungsi sensasi dan persepsi dalam keadaan normal; misalnya mata bisa melihat, hidung bisa mencium, pikiran dalam keadaan normal/perseptif. Mampukah suatu obyek menggairahkan ‘limbic’ dalam otak kita sehingga merasa adanya kenikmatan saat berkontak dengan sebuah obyek arsitektural. Kenikmatan yang didapatkan itu menjadikan otak kita mengatakan sesuatu itu ‘indah’.


Penilaian Keindahan

Walaupun pada awalnya sesuatu yang indah dinilai dari suatu aspek teknis dalam bentuk suatu karya, tetapi perubahan pola pikir dalam masyarakat akan ikut mempengaruhi penilaian terhadap keindahan. Sebagai contoh, pada masa romantisme di Prancis, keindahan memiliki arti kemampuan menyajikan sebuah kegungan.


Pada masa realisme, keindahan memiliki arti kemampuan menyajikan suatu dalam keadaan apa adanya. Pada masa maraknya de Stijl di Belanda, keindahan memiliki arti kemampuan menundukan warna serta ruang dan kemampuan mengabstraksi sebuah benda.


Konsep the beauty dan the ugly

Pada perkembangannya keindahan tidak selalu mempunyai rumusan tertentu. Ia berkembang dengan penerimaan masyarakat etrhadap ide yang dimunculkan oleh pembuat karya. Sebab itulah selalu dikenal dua hal dalam penilaian keindahan, yaitu the beauty, sebuah karya yang memang diakui banyak pihak memenuhi srandar keindahan, serta the ugly, sebuah karya yang sama sekali tidak memenuhi standar keindahan serta oleh masyarakat banyak biasanya dinilai buruk, tetapi bila dipandang dari banyak hal  ternyata memperlihatkan sebuah keindahan.


Baca Juga :