Penyalah gunaan neuroscience menjadi pseudoscienc

Penyalah gunaan neuroscience menjadi pseudoscience

Penyalah gunaan neuroscience menjadi pseudoscience

Penyalah gunaan neuroscience menjadi pseudoscienc
Penyalah gunaan neuroscience menjadi pseudoscienc

Hingga saat ini pihak asosiasi keilmuan, seperti misalnya asosiasi pediatricians Amerika menyatakan bahwa neurofeedback therapy dapat menjadi terapi pendukung bagi terapi utama gangguan ADHD, namun banyak sekali tawaran-tawaran terapi yang justru mengutamakan neurofeedback therapy ini menjadi terapi utama. Neurofeedback diketahui baru bisa memberikan dukungan terapi untuk mengurangi masalah gangguan konsentrasi pada ADHD. Hanya masalah konsentrasinya. Padahal ADHD mempunyai masalah cukup kompleks selain gangguan konsentrasinya.

Ia juga impulsif, agresif, banyak gerak (hiperaktif), dan banyak yang mengalami komorbiditas dengan masalah-masalah neurologis lainnya, misalnya disleksia, gangguan motorik, gangguan sensorik, bahkan gangguan psikiatri lainnya. Gangguan psikiatri lainnya misalnya gangguan obsesive-compulsif, membangkang (Conduct Disorder), gangguan tidur, dan sebagainya. Karena itu berbagai asosiasi dalam bidang kedokteran dan psikologi, tetap meletakkan terapi pengobatan psikiatri dengan obat-obatan psikotropika dan ditambah dengan terapi psikologi (terapi perilaku).

Tetapi di lapangan (begitu juga jika kita meng-google) kita bisa menemukan banyak sekali tawaran neurofeedback therapy ini untuk segala macam gangguan, bahkan dilaporkan dapat menyembuhkan yang dibumbui dengan cerita-cerita sudah dilakukan penelitian bertahun-tahun, tetapi tidak dijelaskan penelitian siapa dan sumbernya apa. Memang betul bahwa penggunaan neurofeedback sudah dilakukan bertahun-tahun, tetapi hasilnya masih sangat minim sekali. Kecuali melatih konsentrasi, neurofeedback dilaporkan belum bisa memberikan sumbangan apa-apa.

Tetapi para penjaja neuroscience yang akhirnya hanya menjajakan ilmu palsu atau pseudoscience seringkali menawarkan hal-hal diluar informasi ilmiah. Apabila ditanya bagaimana dukungan hasil penelitian ilmiahnya, biasanya kelompok pseudoscience akan berkeras menjawab dengan bentuk-bentuk testemoni (pengakuan-pengakuan yang pernah mencobanya). Bisa dilihat disini video sebuah contoh penggunaan neurofeedback untuk penyandang autisme.

Dalam video itu hanya dikemukakan berbagai testemoni dari penderita autisme. Beberapa diantaranya justru keluar dari kriteria autisme, hal yang dalam ilmu kedokteran maupun psikologi, tidak mungkin. Dalam video itu juga dijelaskan bahwa hingga saat ini tidak satu modelpun dalam kedokteran yang dapat digunakan untuk menterapi autisme (memang demikianlah, secara ilmu kedokteran autisme belum ada obatnya), tetapi dari video itu orang didorong untuk mencari upaya terapi alternatif autisme melalui neurofeedback.

Disana dijelaskan bahwa dengan membangun konsentrasi hasil dari terapi, maka si anak dapat diberi pendidikan baik dalam kehidupan sehari-hari termasuk kepatuhan, komunikasi, meningkatkan kemampuan sosial maupun akademi, dan anakpun bisa mengaktualisasikan kecerdasannya. Dengan kata lain berbagai hambatan bisa diatasi. Dengan begitu orang bisa beranggapan bahwa gangguan autisme maupun gangguan lainnya (sosialisasi, emosi, belajar) disebabkan oleh gangguan konsentrasi, yang kemdian dapat diatasi dengan neurofeedback therapy. Jadi sekali dayung dua tiga pulau bisa terlampauinya. Tanpa melihat lagi masalah belajar bisa disebabkan oleh berbagai sebab bahkan bisa berbeda penyebabnya dengan masalah belajar pada autisme.

Padahal dunia ilmiah sudah mengetahui, masalah autisme ada dalam genetik. Dari penelitian-penelitian ilmiah didapatkan bahwa pada anak-anak kembar identik, akan mengalami kans secara siknifikan lebih besar bila didandingkan dengana anak kembar non-identik. Karena gangguan autisme merupakan gangguan yang majemuk dan parah, maka para ahli genetika hingga kini belum dapat menentukan genetic marker pada autisme secara tepat.

Karena itu penelitiannya masih terus berlangsung. Selama penelitian masih berlangsung dan belum pasti bagaimana duduk persoalannya secara etik, pihak kedokteran belum bisa mengeluarkan bagaimana obat yang paling pas untuknya.

Pseudoscience menjajakan neurofeedback yang paling bohong adalah yang mengatakan bahwa stimulasi-stimulasi gelombang otak itu akan melesatkan jumlah neuron (sel syaraf) dan synaps-synapsnya.

Otak memang mempunyai kelenturan perkembangan (plasticity) sehingga stimulasi memang dibutuhkan, tetapi tetap ada limitnya. Karena perkembangan otak manusia senantiasa dipengaruhi oleh genetiknya yang menjadi blue print perkembangan manusia.

Baca Juga :