Obyek Yang Berkaitan Dengan Ihya’ Al-Mawat

Obyek Yang Berkaitan Dengan Ihya’ Al-Mawat

Adapun obyek yang berkaitan dengan Ihya al-Mawat ialah hanya berlaku untuk tanah mati, bukan tanah yang lain. Sedangkan tanah-tanah yang tidak mati, tidak bisa dimiliki kecuali bila tanah tersebut diberikan secara cuma-cuma oleh imam (khalifah), sebab ia tidak termasuk hal-hal yang mubah untuk semua orang, namun hanya mubah bagi imam. Itulah yang kemudian disebut dengan sebutan tanah-tanah milik negara. Hal itu ditunjukkan oleh kasus Bilal Al-Muzni yang meminta sebidang tanah dengan cuma-cuma kepada Rasulullah Saw, di mana dia tidak bisa memilikinya hingga tanah tersebut diberikan oleh beliau kepadanya. Kalau seandainya dia bisa memiliki dengan cara menghidupkan dan memagarinya, karena dia telah memagarinya dengan suatu tanda yang bisa menunjukkan pemilikannya atas tanah tersebut, tentu tanah tersebut bisa dia miliki tanpa harus meminta Rasul Saw agar memberikannya.

Siapa saja yang menghidupkan sebidang tanah mati di atas tanah usyuriyah, maka dia bisa memiliki lahan dan kegunaannya sekaligus, baik muslim maupun non-muslim. Bagi seorang muslim wajib membayar usyurdari panen tanaman dan buah-buahannya sebagai zakat yang diwajibkan atas tanaman dan buah-buahannya, apabila telah mencapai satu nisab. Sementara bagi non-muslim tidak wajib membayar zakat, baik usyur maupunkharaj. Sebab, orang non-muslim tidak termasuk orang yang wajib membayar zakat, sehingga dia bisa diwajibkan. Disamping karena kharaj memang tidak diwajibkan atas tanah usyuriyah.

Siapa saja yang menghidupkan sebidang tanah mati di atas tanah kharajiyah, yang belum pernah dipungutkharaj-nya, maka ia berhak memiliki lahan dan kegunaannya sekaligus, bila dia seorang muslim dan hanya berhak memiliki kegunaannya, bila dia seorang non-muslim. Bagi seorang muslim, hanya wajib membayar usyur dan tidak wajib membayar kharaj. Sedangkan bagi orang non-muslim wajib membayar kharaj, sebagaimana yang telah ditetapkan atas penduduk tanah yang non-muslim, ketika mereka dibiarkan pada saat penaklukan, sebagai kompensasi kharaj yang harus mereka keluarkan.

Siapa pun yang telah menghidupkan sebidang tanah mati, di atas tanah kharajiah yang sebelumnya pernah ditetapkan kharaj-nya sebelum tanah tersebut berubah menjadi tanah mati, maka orang yang bersangkutan hanya berhak memiliki kegunaannya, sementara lahannya tidak, baik muslim maupun non-muslim. Oleh karena itu, masing-masing tetap diwajibkan membayar kharaj, sebab tanah tersebut berstatus sebagai tanah yang ditaklukan yang harus diambil kharaj-nya. Dengan demikian, kharaj tersebut tetap wajib atas tanah tadi sepanjang masa, baik tanah tadi dimiliki oleh seorang muslim maupun non-muslim. Ini adalah ketentuan menghidupkan tanah untuk ditanami.

Sumber :

https://littlehorribles.com/