Kantin Kejujuran

Kantin Kejujuran

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005:68), jujur artinya lurus hati, tidak berbohong, tidak curang, tulus, dan ikhlas. Kejujuran dapat diartikan sifat keadaan jujur, ketulusan hati dan kelurusan hati. Menurut buku panduan Kantin Kejujuran tingkat pelajar terbitan Komisi Pemberantasan Korupsi salah satu nilai dasar yang perlu ditanamkan dalam pembentukan perilaku antikorupsi adalah nilai kejujuran. Apabila anak sejak dini memiliki dan mampu menerapkan nilai kejujuran di dalam keseharian, diharapkan untuk jangka waktu ke depan mereka mampu senantiasa berperilaku jujur. Kejujuran adalah nilai hidup yang bersifat universal. Setiap orang dari semua bangsa dan agama mengenal kejujuran walaupun tidak setiap orang sanggup dan berani melakukan. Mengajarkan nilai-nilai kejujuran sifatnya berjenjang sesuai dengan usia perkembangan anak.Pendidikan antikorupsi melalui pendidikan, salah satu caranya adalah mengasah kejujuran dan menumbuhkan mental antikorupsi di kalangan pelajar. Salah satu di antaranya yaitu melalui Kantin Kejujuran yang berada di lingkungan sekolah mulai dari tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas sampai Perguruan Tinggi. Kantin kejujuran bisa menjadi tempat pembelajaran bagi anak tentang pentingnya kejujuran terhadap diri sendiri, yang pada akhirnya akan bermuara kepada lahirnya generasi yang menghormati kejujuran sekaligus memunculkan generasi antikorupsi. Didalam mengembangkan kantin kejujuran sebagai salah satu strategi pendidikan antikorupsi, hal ini tentunya tidaklah mudah. Terutama faktor yang menjadi pendukung dan penghambat dalam pengembangan kantin kejujuran tersebut.

Pengembangan kantin kejujuran

Pengembangan kantin kejujuran tersebut tentu tidak terlepas dari peran berbagai pihak dan kondisi lingkungan sekolah dalam mensosialisasikan serta menginternalisasikannya kepada siswa. Pengembangan kantin kejujuran tersebut dapat diterapkan dalam rangka menanamkan nilai-nilai kejujuran kepada anak sejak dini. Tantangannya kemudian adalah bagaimana mengembangkan dan memelihara kantin kejujuran dengan melestarikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Memelihara dan memperkuat nilai-nilai kejujuran tersebut tentulah harus tercermin dalam keseluruhan proses penyelenggaraannya.

Pendirian ”kantin kejujuran” adalah suatu upaya yang sangat baik dalam melatih kejujuran para individu agar terbiasa berbuat jujur. Dilihat dari penamaan kantin tersebut tentunyapendirian kantin tersebut bertujuan untuk menanamkan kepada anak tentang arti penting sebuah kejujuran. Kantin kejujuran merupakan salah satu model atau strategi praktik pendidikan antikorupsi bagi anak di lingkungan sekolah. Nantinya anak akan dihadapkan pada dua pilihan yaitu ingin menerapkan kejujuran hati nuraninya atau tidak. Mentalitas siswa masih menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi dalam mengembangkan kantin kejujuran di sekolah. Eko S. Tjiptadi, selaku Direktur Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK mengemukakan dalam peresmian kantin kejujuran di SMAN 1Ciparay di desa Pakutandang, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung bahwa: Kantin kejujuran adalah sebuah model kantin yang dikelola oleh anak-anak sekolah dengan modal jujur. Setiap anak sekolah berhak terlibat untuk menjadi pengurus dan pengelola kantin kejujuran. Prinsip keterbukaan dan kejujuran menjadi ciri utama dari para pengelolanya (Pikiran Rakyat, 2008). Menurut Syaharudin (2009) kantinkejujuran dalam pelaksanaannya tersebut tidak dijaga oleh seorang pelayan toko atau kasir.Kantin dibiarkan terbuka tanpa penjaga. Melalui kantin kejujuran, siswa belajar berperilaku jujur dan bersikap patuh ketika tidak ada orang yang mengawasi. Belajar jujur kepada diri sendiri, secara langsung dapat menyentuh kesadaran dan sikap siswa. Dengan adanya kantin kejujuran di sekolah diharapkan siswa bisa kembali melatih hati nuraninya pada saat membeli sesuatu di kantin tanpa diawasi oleh penjaga. Kantin kejujuran bisa menjadi suatu terapi agar siswa nantinya tidak mempraktikkan korupsi karena tindakan itu bisa menghancurkan mental masyarakat dan negara. Sekolah diharapkan bisa menjadi contoh agar lulusannya bisa menjadi sumber daya manusia yang jujur sehingga dapat membantu perubahan positif di masyarakat (Tuti, 2009:2).Pendirian kantin kejujuran di sekolah merupakan sarana untuk membentuk sikap mental yang positif, dan kepribadian yang jujur di kalangan pelajar, sekaligus sebagai media yang cukup efektif dalam menumbuhkembangkan rasa tanggung jawab pada diri anak sebagai kader pemimpin bangsa dimasa yang akan datang. Dalam implementasi kantin kejujuran tersebut, para pelajar diberikan kesempatan untuk menentukan sikap, akan berbuat jujur atau melakukan kecurangan. Harus disadari bahwa moral generasi muda merupakan aset utama sebuah bangsa. Oleh karenanya, mempersiapkan sikap hidup dan perilaku jujur dengan moral yang baik dan mental yang bersih, akan menjadi cara yang efektif  dalam menanggulangi dan mencegah timbulnya koruptor di masa mendatang.

https://movistarnext.com/