Harkitnas, Momentum Bangkit dari Beragam Permasalahan, Sisir Anak Tidak Sekolah ke Desa-Desa

Harkitnas, Momentum Bangkit dari Beragam Permasalahan, Sisir Anak Tidak Sekolah ke Desa-Desa

Harkitnas, Momentum Bangkit dari Beragam Permasalahan, Sisir Anak Tidak Sekolah ke Desa-Desa

Harkitnas, Momentum Bangkit dari Beragam Permasalahan, Sisir Anak Tidak Sekolah ke Desa-Desa
Harkitnas, Momentum Bangkit dari Beragam Permasalahan, Sisir Anak Tidak Sekolah ke Desa-Desa

Setiap 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Kota Delta pun harus bangkit dari sejumlah permasalahan. Di antaranya, bangkit dari anak putus sekolah, pengangguran, dan kemiskinan.

SEPTINDA AYU PRAMITASARI
Harkitnas, Momentum Bangkit dari Beragam Permasalahan, Sisir Anak Tidak Sekolah ke Desa-Desa
Data Anak Usia Sekolah Tidak Sekolah (ATS) (Grafis: Erie Dini/Jawa Pos/JawaPos.com)

DWI Wahyu Ismiatus adalah satu di antara ribuan anak usia sekolah yang tidak sekolah (ATS). Dara 16 tahun itu tengah menjadi prioritas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Pemkab Sidoarjo untuk ditangani. Dia putus sekolah saat kelas VIII di SMP YPM Sarirogo. Penyebabnya, sering membolos hingga akhirnya di-drop out (DO) dari sekolah.

”Saya juga sih yang salah. Sebulan saya hanya masuk dua minggu,” ungkap Dwi lirih.

Meski telah putus sekolah, Dwi lantas tidak mau berdiam diri di rumah. Awal tahun ini dia bergabung di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Al Hikmah Sukodono. Dia melanjutkan kejar paket B. ”Menyesal sekali putus sekolah. Mengecewakan orang tua. Jadi, saya ikut kejar paket B,” katanya.

Sabtu (20/5) Dwi akhirnya bisa mengikuti ujian kejar paket B. Dengan demikian, keinginannya untuk melanjutkan ke sekolah formal pun bisa terwujud. Dia ingin sekali bisa masuk ke SMK Wijaya Sukodono. ”Pokoknya, putus sekolah itu tidak enak. Saya tidak ingin membolos-bolos lagi,” ujarnya.

Lain halnya dengan Aji Purnama. Warga Desa Kebonagung, Kecamatan Sukodono, itu putus sekolah karena masalah ekonomi. Ayahnya, Muaji, telah meninggal dunia. Dia hanya tinggal bersama ibunya, Sri Wulandari. Impitan ekonomi membuat Aji terpaksa harus melepaskan bangku SMP kelas VIII. ”Kasihan ibu. Saya berhenti sekolah dan kerja,” katanya.

Saat itu usia Aji masih 14 tahun. Dia memilih kerja menjaga warnet untuk bisa menyambung hidup. Namun, keinginan untuk sekolah sangat tinggi. Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk melanjutkan sekolah kejar paket B. ”Saya ingin bisa menyelesaikan pendidikan. Keluarga dan saudara juga mendukung keinginan saya,” ujarnya yang kini bekerja sebagai tukang cuci bus.

Meski usianya kini sudah 18 tahun, dia tetap ingin bisa melanjutkan ke jenjang lebih tinggi di lembaga formal. Dia ingin sekali bisa masuk SMK dengan jurusan multimedia. Semangat belajar itu terus ada. Bahkan, hingga bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. ”Saya tidak peduli apa kata orang lain. Saya ingin mengubah nasib. Agar ibu juga bangga,” katanya.

Ya, beragam permasalahan melatarbelakangi anak usia sekolah tetapi tidak sekolah. Meski begitu, mereka tetap mendapatkan hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. Itu sejalan dengan program pemerintah pusat untuk mengentaskan ATS di Indonesia. Termasuk di Kabupaten Sidoarjo.

Dikbud pun kini telah melakukan kroscek data yang diperoleh dari badan perencanaan dan pembangunan daerah (bappeda) dan Kemendikbud. Hasilnya, ditemukan 2.242 anak yang termasuk ATS. Usia mereka 6–21 tahun.

Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Masyarakat Dikbud Sidoarjo Sri Sutarsih mengungkapkan, 2.242 anak yang putus sekolah tersebut akan menjadi prioritas. Pihaknya juga telah mengklasifikasikan seluruh data di setiap kecamatan by name by address. ”Setelah mendapat data, kami langsung kroscek. Untuk dicari yang prioritas,” katanya.

Kini data tersebut sudah diserahkan ke UPT pendidikan dan kebudayaan di setiap kecamatan dan satuan pendidikan PKBM untuk dilakukan penjaringan. Proses penjaringan ATS tersebut tentu tidak mudah. Sebab, dibutuhkan kerja sama dengan seluruh lapisan masyarakat maupun pemerintah desa. ”Target penjaringan ini bisa tuntas 30 Mei,” ujarnya.

Setelah dilakukan penyisiran, data tersebut akan segera di-entry ke data pokok pendidikan (dapodik). Mereka akan diupayakan untuk bisa menuntaskan pendidikan melalui pendidikan formal dan nonformal (PKBM). ”Kalau usianya memungkinkan masuk sekolah formal dan anaknya mau, ya tidak apa-apa. Tetapi, kami fasilitasi untuk masuk di lembaga PKBM juga,” katanya.

Salah satu bentuk keseriusan pemerintah dalam menangani ATS,

lanjut dia, adalah memberikan bantuan operasional pendidikan (BOP) kepada satuan pendidikan yang bersangkutan. Siswa tersebut juga akan mendapatkan program Indonesia pintar (PIP). ”Jadi, mereka tinggal sekolah saja, tidak perlu memikirkan biaya,” ujarnya.

Besaran BOP untuk kejar paket A adalah Rp 970 ribu per anak setiap tahun. Sedangkan paket B Rp 1,4 juta per anak dan paket C Rp 1,7 juta per anak. BOP tersebut dikelola langsung oleh lembaga yang bersangkutan sesuai dengan jumlah siswa yang ditangani.

Sri menyatakan, pihaknya sudah menyerahkan data tersebut kepada UPT dikbud kecamatan dan PKBM untuk menyisir satu per satu di lapangan. Seluruh PKBM juga diminta untuk bergerak agar bisa menampung ATS yang ada di wilayah masing-masing. ”Di Sidoarjo ini ada sekitar 26 PKBM,” ungkapnya.

Menurut dia, angka ATS di Kota Delta tinggi lantaran banyak masyarakat urban

yang berdatangan. Hasil penyisiran di lapangan itu nanti dapat menentukan kesimpulan. ”Kami belum tahu, apakah data itu benar riil atau tidak. Apa sudah ditangani atau belum,” katanya.

Sementara itu, Wakil Kepala Kurikulum PKBM Al Hikmah Sukodono Suarjo menuturkan, data ATS yang diterimanya untuk wilayah Kecamatan Sukodono mencapai 71 anak. Pihaknya belum menyisir ke lapangan. Sebab, masih fokus dengan ujian kejar paket. ”Setelah tuntas ujian nasional, kami langsung menyisir data tersebut,” ungkapnya.

Suarjo mengungkapkan, pihaknya sedikit kesulitan untuk bisa menyisir satu per satu data ATS

yang ada. Selain itu, belum tentu anak tersebut mau diajak melanjutkan sekolah. Rata-rata mereka memang sudah bekerja. ”Pengalaman yang sudah ada, mereka bekerja,” ujarnya.

Saat ini, lanjut Suarjo, pihaknya juga akan mengelompokkan data ATS per desa. Setelah itu, dia akan bekerja sama dengan pihak desa untuk mencari ATS yang telah terdata. ”Yang lebih tahu warganya itu pihak desa. Kami yang menampung untuk pendidikannya. Nanti kami mencoba menyampaikan data ini ke pihak desa dulu,” tandasnya.

 

Sumber :

https://jakarta.storeboard.com/blogs/education/definition-of-text-review-and-examples/965580