Hari yang Ditunggu Telah Tiba

Hari yang Ditunggu Telah Tiba

Hari yang Ditunggu Telah Tiba

Hari yang Ditunggu Telah Tiba
Hari yang Ditunggu Telah Tiba

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba

Kak Guna terlihat sangat ganteng dengan pakaian adat sunda yang digunakannya. Begitu juga dengan Kak Vina, parasnya yang anggun membuatnya seakan putri keraton. Aku yang menggunakan kebaya merah duduk tepat di belakang kak Guna yang bersiap untuk berijab kabul. Semua keluarga besar dari keluarga Ayah dan Alm.Bunda ikut serta dalam barisanku, begitupun dengan keluarga besar kak Vina. Setelah kata “sah” diucapkan oleh para saksi, seisi ruangan pun bertempuk tangan dan mengucapkan selamat kepada pasangan baru. Aku yang berada di samping ayah ikut bahagia dengan pernikahan kakakku hari ini, kulihat Ayah berbinar melihat kak Guna dan kak Vina resmi menjadi suami-istri.

 

Malam harinya acara resepsi pernikahan pun diadakan

Di salah satu gedung mewah di kota kami. Aku dan Nadya kali ini kembaran menggunakan kebaya coklat keemasan yang membuat kami seperti saudara kandung. Gedung kini telah dipenuhi oleh orang-orang berjas dan berkebaya, tamu yang datang dari teman-teman kantor Ayah, kerabat Ayah dan Alm. Bunda, teman-teman kak Guna dan kak Vina serta teman kampus dan SMAku. “Gita cantik banget, cewek banget deh malam ini”, komentar semua padaku. Aku berdiri di samping Ayah menyambut tamu yang datang ke acara kak Guna, maklum hanya aku wanita di keluarga kecil kami, jadi akulah yang menggantikan posisi Bunda saat ini berdiri di samping Ayah. Kulihat dari jauh Nadya bercakap-cakap dengan orang yang sepertinya kukenal, ya itu Kak Rey dengan jas hitam yang melekat di badannya. Aku langsung berdebar ketika Kak Rey mendekat ke pelaminan dan bersiap untuk bersalaman denganku. Ia terlihat membuka sedikit bibirnya dan tersenyum kepadaku, setelah itu langsung melangkah ke kak Guna dan Kak Vina. Mereka terlihat sangat akrab, dan sampai sekarang aku masih belum mengerti alasan keakraban mereka.

 

Setelah satu jam berdiri di samping Ayah

Kurasakan otot kakiku begitu tegang karna high heelsyang kugunakan. Aku meminta izin pada Ayah untuk turun bergabung bersama teman-temanku dan minta digantikan oleh tante Tia, saudara Ayah. Belum sampai aku bergabung bersama teman-temanku, tiba-tiba seorang menarik tangan dan memanggilkan namaku. Sontak aku berbalik dan betapa kagetnya aku ketika orang yang memanggilku adalah kak Rey.

“Gita Mey Adrian ada waktu sebentar?” tanyanya manis padaku.

“Iya kak, ada apa ya?”, aku balik bertanya padanya.

“Kita bicara di luar bisa?”, katanya sambil menunjuk ke arah luar gedung. Aku mengangguk tanda setuju dan kuikuti dia dari belakang. Kurasakan puluhan pasang mata kini mengikuti langkahku dan kak Rey, begitupun Nadya yang langsung memberi kode seakan meneriakkan kata-kata “Semangat ya! Goodluck Git!”, ya Nadya tahu betul bahwa aku sudah lama mengagumi kak Rey ini.

Dalam waktu lima menit sampailah kami di dalam sebuah Fortuner hitam milik kak Rey. Ia mulai membuka pembicaraan

“Pasti kamu heran ya kenapa aku ajakin kesini”

“iya kak hehe ada apa ya?”

“ngak ada apa-apa, pengen ngobrol aja”

“oh”, jawabku seadanya. Aku tak bisa berkata-kata di depannya, kali ini aku kikuk setengah mati.

“Aku sama Guna itu teman SMP, dulu kami sahabatan dan sempat sebangku. Tapi pas SMA kita pisah sekolah. Trus Guna kuliah di UI, dan waktu itu aku kuliah di Jogja jurusan Psikologi. Pas kuliah di Jogja ternyata mama jadi sakit-sakitan karna mikirin aku yang kuliah jauh, akhirnya tahun berikutnya baru deh daftar kedokteran dan lulus, dan akhirnya kita satu kampus”. Aku hanya cengengesan ketika ia melihat ke arahku, aku tetap tak bisa berkata apa-apa saat ini.

“Dan pas ketemu Guna di kampus waktu itu, aku kaget banget karna ternyata kamu adalah adiknya Guna. Gak tau juga ya kenapa bisa kebetulan seperti ini”, lanjutnya kemudian. Ia tersenyum namun hanya menatap ke arah luar mobil, dan masih saja aku terdiam tak berkutik di sampingnya.

“Pasti kamu gak ngerti kan?”, sambungnya.

“iya kak hehe”, dan masih saja aku cuma cengengesan. Diambilnya sebuah buku kecil mirip buku harian dari samping kursinya, dan disodorkannya padaku.

“Nih ambil, tapi bacanya nanti kalau sudah di rumah ya”, katanya kemudian sambil tersenyum manis. Sungguh aku masih belum mengerti. Kak Rey lalu mengajakku untuk turun dan kembali masuk ke gedung.

Baca Juga :