fungsinya sebagai dongeng pemberi pesan moral baik kepada anak-anak

Si Kancil: Politik dan Kepribadian

Fabel-fabel yang berkembang di Indonesia umumnya menjadikan Kancil sebagai tokoh protagonist, karena Kancil menurut McKean dinilai mampu menyimbolkan orang Jawa yang selalu mendambakan keadaan yang selaras serta tenang dalam menghadapi suatu cobaan atau dapat bertindak cepat tanpa banyak emosi dalam memecahkan masalah rumit apapun (cool intelegence) (Danandjaya, 1991). Tak main-main, karakter Kancil ini dipelajari oleh banyak ilmuwan dari luar negeri laiknya J.L.A. Brandes, B.C. Humme, W. Palmer van den Broek, dan H. Kern.

Fabel mempunyai fungsi sebagai lelucon,

bahkan lebih lagi mampu sebagai alat kritik social dari keadaan yang ada atau disebut juga “menasehati dengan hati-hati”. Selain fungsinya sebagai dongeng pemberi pesan moral baik kepada anak-anak karena lebih mudah dalam penerimaannya oleh anak-anak. Fabel memang dari awal bertujuan untuk mengkritisi pemerintah atau kaum atas oleh para kelas bawah tanpa ada rasa takut akan hukuman karena menggunakan binatang sebagai pelaku yang berlagak sebagai manusia.

Fabel dengan judul Animal Farm karya dari George Orwell yang dipublikasikan pada tahun 1945, yang disebut merupakan penggambaran Revolusi Rusia tahun 1917 yang kala itu terjadi denan berakhirnya era autokrasi Tsar menuju era Uni Soviet di bawah pimpinan Stalin. Penggambaran dengan menggunakan binatang Babi bernama Napoleon sebagai tokoh utama yan mengingikan terjadinya revolusi di Peternakan milik Tn. Jones yang kurang bertanggug jawab. Fabel Animal Farm ini sangat inspiratif sekali karena banyak sekali alegori-alegori atau makna-makna yang tersembunyi dalam kisahnya mulai dari solidaritas, politik, keluarga, bahkan agama yang dikemas secara menarik dan penuh dengan kesatiran zaman tersebut.

Nampaknya, isi setiap fabel-fabel yang berkembang setelah abad 20 banyak sekali dipengaruhi oleh zeitgeist (jiwa zaman) para penulisnya. Aesop dalam setiap fabelnya banyak menceritakan mengenai keresahan-keresahan selama ia menjadi budak. Konsep fabel karya dari Aesop masih menggunakan konsep etiology (Blackman, 1985) atau disebut juga dengan penjelasan mengenai suatu kejadian menggunakan hukum sebab akibat. Sehingga di kahir frasa dalam fabel Aesop selalu diberikan nilai moral-moral positif.

Jiwa zaman George Orwell juga sangat Nampak dalam penggambaran novel fabel Animal Farm, dimana ia menggambarkan tokoh-tokoh terkenal seperti Stalin dengan Babi bernama Napoleon sebagai protagonis utama dan Tuan Jones yang dialegorikan sebagai Kaisar Tsar Nicolas II yang dianggap lemah. Tragedi dan intrik-intrik politik yang terjadi di Revolusi Rusia kala itu digambarkan dengan menarik oleh George Orwell dalam situasi peternakan yang juga sama chaos-nya saat terjadinya Revolusi Rusia 1917. Perbedaan Animal Farm ini dari fabel-fabel yang lain adalah beta kompleksnya cerita yang disajikan, tidak seperti fabel-fabel yang berkembang lainnya yang singkat dan menitik beratkan pada nilai moralnya. Bahkan, bisa disebut fabel Animal Farm sebagai fabel yang sangat buas karena sangat satir dalam alurdan ceritanya.

SUmber: https://cipaganti.co.id/