Budaya Literasi Itu Tumbuh dari Rumah

Budaya Literasi Itu Tumbuh dari Rumah

Budaya Literasi Itu Tumbuh dari Rumah
Budaya Literasi Itu Tumbuh dari Rumah

Ibarat sebuah tanaman, budaya literasi akan tumbuh dari pembiasaan di rumah. Tanaman akan tumbuh subur jika ditanam di media dan lingkungan yang baik, mulai dari kecocokan tanah, air, pupuk, suhu, cuaca, iklim, dan lain-lain. Begitu pula literasi, budaya di rumah yang menunjang literasi harus dihidupkan.

Banyak orang tua yang hanya mengandalkan sekolah untuk mengembangkan literasi anak. Dalam masyarakat Jawa ada ungkapan “pasrah bongkokan” saat menyekolahkan anak. “Pasrah bongkokan” diartikan sebagai pasrah semuanya. Artinya, orang tua menyerahkan segala bentuk pendidikan anaknya kepada sekolah. Dalam hal ini ada baiknya juga jika dengan “pasrah bongkokan” orang tua berarti menyetujui segala sistem pendidikan di sekolah itu tanpa mengabaikan pendidikan di keluarga. Hanya saja yang menjadi masalah adalah jika “pasrah bongkokan” diartikan sebagai segala bentuk pendidikan diserahkan ke sekolah saja. Itu bahaya.

Literasi di sekolah hanya sebatas pengembangan karakter berliterasi yang sudah dibentuk di rumah. Walaupun memiliki segudang fasilitas dalam literasi, sebuah sekolah akan kesulitan mengembangkan budaya literasi bagi anak yang tidak memiliki minat literasi. Ditambah lagi jika anak tersebut sama sekali tidak mengenal pembiasaan literasi di rumah, seperti yang sudah saya ulas di bagian awal dalam tulisan ini.
Ibaratnya tanaman, seorang anak yang sudah dibiasakan literasi di rumah adalah benih unggul. Jika benih unggul tersebut mendapat tempat yang tepat, benih itu akan tumbuh subur dan menghasilkan panenan yang berkualitas. Begitu pula jika ada anak yang sudah biasa dibiasakan literasi di rumah, kemudian anak tersebut mengenyam pendidikan di sekolah yang sangat mendukung literasi, maka anak tersebut bisa mengembangkan dirinya secara maksimal dan menjadi Sumber Daya Manusia yang unggul.