Akhir Perang Diponegoro

Akhir Perang Diponegoro

Akhir Perang Diponegoro

Akhir Perang Diponegoro
Akhir Perang Diponegoro

 Bertambahnya kekuatan Belanda

yang mendapat pertolongan dari sekutu – sekutunya  yang membuat pasukan Diponegoro semakin terdesak  diberbagai medan pertempuran  dan juga Belanda selalu membujuk  pemimpin – pemimpin  tanguh pasukan Diponegoro agar menyerah. Natodinigrat,

Ari Papak, Sosrodiligo, Kyai Mojo

dan masih banyak pemimpin pasukan lainya yang menyerahkan diri kepada Belanda. Hal inilah yang menyebabkan lemahnya pasukan Diponegoro.  Belanda juga memaksa  Pangeran Diponegoro  menghentikan perlawanan kalau tidak anaknya Pangeran Anom akan dibunuh. Sedangkan Pasukan Sentot masih gemar – gemarnya melakukan penyerangan terhadap Belanda sehingga Belanda mundur ketepi sungai Progo. Belanda selalu berupaya mendekati Sentot namun selalu gagal.

Cara lain yang digunakan oleh Belanda adalah

menggunakan Pangeran Ario Prawirodningrat ( bupati Madium) yang masih kerabat dengan Sentot sendiri. Akhirnya Sentot meyerah dan berdamai dalam perjajian Imogiri 17 Oktober 1929 . Bagi Diponegoro dengan menyerahnya Sentot merupakan pukulan yang sangat berat sedangkan Pengeran Joyokusumo  sebagai ahli taktik juga sudah meninggal. Sehingga merosotnya kekuatan pasukan Diponegoro semakin jelas karena orang yang berperan didalam melakukan penyerangan banyak yang menyerah kepada Belanda.

            Usaha lain yang dilakukan Belanda ntuk mempercepat perang dengan cara pemberian hadia bagi siapa yang berhasil menangkap Pangeran Diponegoro akan dibayar 20.000 Ringit. Namun hal ini tidak berhasil sehigga Belanda mencari cara lain  jalan lain Yaitu Klonel Cleerens berusaha membujuk pangeran diponegoro dan mengadakan pertemuan dengan Pangeran Diponegoro didesa Romo Kalam 16 Februari 1830. Dan perundinagn selanjutnya didaerah Kecawang sesudah itu baru Dimangelang . Kepercayaan  Pangeran Diponegoro terhadap kolonel Cleerens  tanggal 21 Februari 1830 ia sampai di Bukit Menoreh dan tanggal 8 maret mamasuki kota Mangelang.

Jendaral De Kock

yang mengetahui hal ini langsung secara diam – diam membuat rencana untuk melakukan penangkapan apabila perjanjiaan tersebut gagal. Ternyata memang perjanjian tersebut gagal dan Pangeran Diponegoro berhasil ditangkap di rumah Residen Kedu  yang menjadi tempat perundingan  tepatny  pada tanggal 28 Maret 1830. Pangeran Diponegoro di asingkan ke Manando  dan pada tahun 1834 Pangeran Dipenogoro dipandahkan ke Ujuang Pandang disinilah Pangeran Diponegoro maninggal sampai tahun 1855. Dengan ditangkapnya Pangeran Diponegoro membuat pasukan Dipenogoro semakin lemah dan akhirnya perlawanan  tidak berarti lagi.

Baca Juga :